Langsung ke konten utama

Sistem Temu Kembali Informasi





BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang 
Konsep dasar sistem temu balik informasi (STBI) adalah proses untuk mengidentifikasi kecocokan (match) di antara permintaan (query) dengan representasi atau indeks dokumen, kemudian mengambil (retrieve) dokumen dari suatu simpanan  (file) sebagai jawaban atas pemintaan tersebut. STBI pada prinsipnya bekerja berdasarkan ukuran antara stilah query dengan istilah yang menjadi representasi dokumen.
Pengertian lain menyatakan bahwa STBI adalah proses yang berhubungan dengan representasi, penyimpanan, pencarian, dan pemanggilan informasi yang relevan dengan kebutuhan informasi yang diinginkan pengguna (Ingweson, 1992: 49). Pendapat ini menunjukkan bahwa pada STBI terkandung sejumlah kegiatan yang meliputi proses penyimpanan, penyediaan representasi, identifikasi, serta pencarian atau penelusuran dokumen yang relevan pada suatu database, dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi dari pengguna. Tague-Sutcliffe (1996: 1) mengemukakan bahwa STBI adalah suatu proses yang dilakukan untuk  menemukan dokumen yang dapat memberikan kepuasan bagi pengguna dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Tujuan utama STBI adalah untuk menemukan dokumen yang sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna secara efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan kepuasan bagi pengguna. Dengan demikian sasaran akhir dari STBI adalah kepuasan pemakai.
Secara teknis, tujuan STBI adalah mencocokkan (matching) term atau istilah yang dibangun (query) dengan term atau indeks yang ada dalam dokumen, sehingga dengan kecocokan tersebut maka dokumen-dokumen yang relevan akan terambil (retrived) dari database. Dokumen relevan yang terambil tersebut itulah tujuan dari STBI. Smeaton (1990) memformulasikan tujuan dari STBI ialah, terambilnya dokumen berdasarkan permintaan pengguna dengan harapan bahwa content atau isi dari dokumen yang terambil tersebut relevan dengan kebutuhan informasi pencari informasi.

B.   Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Proses pencocokan pemanggilan sebuah dokumen?
2.      Apa peran Inverted file didalam pemanggilan dokumen?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pencocokan Dokumen
Pencocokan (matching) adalah proses membandingkan antara istilah yang tercantum dalam pertanyaan pemakai (query) dengan istilah yang tercantum dalam dokumen (Meadow, 1973:131). Pencocokan istilah (query) yang dimasukkan oleh pengguna dengan indeks dokumen yang tersimpan dalam database dilakukan oleh mesin komputer. Komputer yang melakukan proses pencocokan itu dalam waktu yang sangat singkat sesuai dengan kecepatan memory dan processing yang dimiliki oleh komputer itu.
Pencocokan dokumen dihitung antara permintaan dengan setiap dokumen yang berbasis algoritma pada sistem. Algoritma didasarkan pada kehadiran query term (s), term frequency, tf/idf, pemenuhan logika boolean, atau bobot query. Setelah menghitung kesamaan setiap dokumen dalam subset dari dokumen, sistem menyajikan daftar hasil pencarian kepada pengguna. kecanggihan dari pencarian dokumen tergantung pada bagaimana sebuah sistem memiliki kekayaan dokumen dan mekanisme pembobotan query.[1]
Untuk mencocokkan pertanyaan pemakai dengan dokumen, sekurang-kurangnya ada dua macam fungsi pencocokan (matching-function) yaitu fungsi exact match dan fungsi patrial match (Hasibuan, 1997: 2). :
1.      Fungsi exact match adalah pencocokan di mana representasi suatu pertanyaan persis sama atau harus sesuai dengan representasi dokumen, agar dokumen tersebut dapat terambil (retrieved).
2.      Sedangkan fungsi patrial match atau pencocokan sebagian yaitu representasi pertanyaan hanya sebagian saja yang sama dengan representasi dokumen. Pencocokan sebagian ini dikenal dengan  pemenggalan (truncation).

Pencocokan membutuhkan representasi dokumen. Umumnya STBI didasarkan pada representasi dokumen, karena representasi tersebut jauh lebih pendek atau lebih ringkas dari dokumen aslinya. Representasi dapat berupa abstrak dan istilah indeks (Rowley, 1990: 6). Abstrak adalah representasi dokumen yang jelas dan ringkas dengan mengikuti  pola dan penyusunan seperti aslinya. Sedangkan indeks adalah representasi dokumen yang bertujuan untuk menemukan kembali dokumen-dokumen yang telah disimpan dan diorganisir melalui proses.[2]

B.     Inverted file
Inverted file atau inverted index adalah mekanisme untuk pengindeksan kata dari koleksi teks yang digunakan untuk mempercepat proses pencarian. Struktur inverted file terdiri dari dua elemen, yaitu: kata (vocabulary) dan kemunculan (occurences). Kata-kata tersebut adalah himpunan dari kata-kata yang ada pada teks, atau merupakan ekstraksi dari kumpulan teks yang ada. Dan tiap kata terdapat juga informasi mengenai semua posisi kemunculannya secara rinci. Jumlah dari posisi-posisi inilah yang dimaksudkan dengan nilai kemunculan atau occurences. Posisi dapat merefer kepada posisi kata ataupun karakter.



Kolom vocabulary adalah kata-kata yang telah diekstraksi dari dari koleksi teks, sedangkan occurences adalah posisi kemunculan pada teks. Struktur inverted file seperti ini masih secara sangat sederhana sehingga berikutnya muncul beberapa masalah. Nilai kemunculan dari kata-kata memerlukan ruangan (space) yang tidak sedikit, karena tiap kata muncul pada teks sekali pada struktur occurences, sehingga ada ruangan ekstra atau dilambangkan dengan O(n).
Walaupun tidak semua kata diindekskan karena ada kata-kata stopword yang dibuang, overhead yang muncul akibat penambahan indeks ini sampai mencapai 30% sampai dengan 40% dari ukuran besar koleksi teks. Sehingga untuk mengurangi kebutuhan ruangan yang besar tersebut, maka digunakanlah teknik yang disebut block addressing. Teknik pengindeksan ini sama seperti teknik klasik sebelumnya yang disebut full inverted indices, karena tetap sama elemennya yaitu vocabulary dan occurences. Namun perbedaan yang ada dan membuat teknik ini lebih unggul adalah pada pengalamatanya yang tidak satu-satu pada tiap kata seperti yang dilakukan oleh teknik yang klasik, namun pengalamatannya berdasarkan blok-blok tertentu yang sudah didefiniskan.
Dengan teknik ini kebutuhan ruangan untuk membuat tambahan pengindeksan akan lebih berkurang, karena dapat dipastikan bahwa jumlah blok akan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah keseluruhan kata. Secara eksperimental hanya diperlukan 5% dari koleksi teks untuk membuat tambahan pengindeksan dengan teknik ini. Sungguh efisien dalam penggunaan ruangan atau space demand. Namun trade off yang terjadi adalah pada tiap kali me-retriev kata maka yang akan di tunjuk adalah alamat blok kata tersebut. Sehingga harus dilakukan literasi berikutnya pada blok tersebut untuk menemukan kata yang dimaksud. Tapi trade off ini tidak perlu dikhawatirkan karena tidak begitu banyak berpengaruh terhadap sistem karena hanya merupakan komputasi perbandinga sederhana jika dibandingkan efek positif yang sangat baik karena mampu mengefisienkan ruangan yang dibutuhkan untuk pengindeksan.[3]

1. Inverted index
Setiap istilah indeks dikaitkan dengan daftar inverted, yaitu :
a)      Berisi daftar dokumen, atau daftar kata kejadian dalam dokumen, dan informasi lainnya
b)      Setiap entri disebut posting
c)      Bagian dari postingan yang mengacu pada yang spesifik dokumen atau lokasi disebut pointer
d)     Setiap dokumen dalam koleksi tersebut diberi jumlah  yang unik
e)      Daftar dokumen biasanya dipesan atau dipanggil dengan nomor dokumen (diurutkan menurut Nomor dokumen)[4]

C.    Sistem Inverted File
Pencarian dilakukan dengan mencocokkan akar token dokumen yang tersimpan dalam database. Jika Sesuai dengan kata kunci dari kata kunci yang dicari, maka seluruh dokumen objek di dalam objek catatan dokumen token tersebut diambil untuk diproses dan ditampilkan, penelitian ini tidak hanya menggunakan inverted file secara mekanisme, namun sebuah sistem yang dirancang untuk mengatur file terbalik. Proses pengaturan disini termasuk apa yang akan dilakukan saat melakukan insert inverted files, delete file terbalik, eksekusi kueri, pengelola log, pengaturan, sumber informasi, dan pengindeksan. Sistem Inverted Files System juga terbagi menjadi beberapapa kesesuai dengan proses yang dilakukan oleh masing-masing  paket.
 
1. Hapus File Terbalik
a.       Admin memilih dokumen yang akan dihilangkan.
b.      Sistem menyimpan dokumen yang dipilih ke daftar file.
c.       Admin mengaktifkan fungsi hapus
d.      Sistem melakukan proses penguraian dokumen daftar yang akan dihapus ke token koleksi
e.       Sistem mencari posisi token yang terhapus dokumen dalam file terbalik
f.       Sistem menghapus dokumen yang terkait ke token yang terkait dengan yang terhapus dokumen dalam file terbalik
g.      Sistem melakukan pembobotan ulang untuk setiap token

2. Setting
a.       Admin menyiapkan file database yang ideal untuk  mencocokkan aplikasi yang dibuat
b.       Admin menentukan IP Application Server.
c.       Sistem membuat pengaturan untuk penampungan HTML dokumen yang akan disimpan dalam database
d.      Sistem mengonfigurasi lokasi folder penyimpanan dari file log Indeks
 
3. Pengindeksan
a.       Indexer melakukan pengindeksan dengan mengolah hasil tahap pertama pengindeksan dan perhitungan berat masing-masing token.
b.       Indexer melakukan pemilahan database yang inverted file sesuai dengan berat masing-masing inverted file

4. Memasukkan File Invert
a.       Sistem melakukan penyisipan inverted file yang langsung dilakukan dengan menyimpan dokumen di akhir daftar tertaut.
b.      Sistem membaca setting ukuran yang inverted file dan metadata, berdasarkan metadata ini, sistem menentukan nama file yang baru file database Selanjutnya, inverted file akan dibuat oleh sistem pembaruan system metadata yang terkait dengan autoexten dini proses.
c.       Sistem menghitung ukuran inverted file itu ada di database Perhitungan ini sudah selesai setiap kali sistem akan melakukan proses penyisipan untuk memastikan kapasitas yang memadai dari database untuk menyimpan data.
d.      Admin membuat database inverted file sebagai tempat untuk menampung dokumen


5. Pelaksana Kueri
a.       Sistem mengeksekusi query dengan melakukan query parsing tingkat rendah
b.      Sistem melakukan pengambilan dokumen[5]

D.    Penerapan Teori Pohon Pada Algoritma Pencarian
Algoritma pencarian pada inverted file terdiri dari tiga langakah umum, yaitu:
1.      Vocabulary search, kata-kata yang ada pada query dicari pada vocabulary, dan frase pun dipecah menjadi dua buah kata yang berbeda.
2.      Retrieaval of occurrences, daftar kemunculan seluruh kata yang ditemukan di retriev.
3.      Manipulation of occurrences, nilai kemunculan diproses sebagai kombinasi perhitungan similarity antara dokumen dengan query. Oleh karena itu, pencarian pada inverted file selalu dimulai pada vocabulary. Maka membagi file ini menjadi beberapa file yang terpisah merupakan ide yang baik, sehingga sebesar apapun koleksi teks tersebut maka akan tetap tertampung atau dapat ditangani oleh memori utama.

Suatu kata tunggal dapat dicari menggunaka beberapa macam struktur data yang sesuai yang dapat mempercepat pencarian, seperti hashing, pohon, ataupun pohon binary. Dua yang pertama dari struktur data tersebut memiliki biaya sebesar O(n), sedangkan untuk pohon binary memiliki biaya sebesar O(log n).


a.      Pohon
Pohon adalah graf tak-berarah terhubung yang tidak mengandung sirkuit. Sekilas mengenai pohon dapat secara jelas dipahami dengan memperhatikan gambar 5.

Karena definisi pohon tersebut diacu dari teori graf, maka sebuah pohon dapat mempunyai sebuah simpul tanpa sebuah sisipun. Dengan kata lain, jika G = (V,E) merupakan sebuah pohon, maka V tidak boleh berupa himpunan kosong, tetapi E boleh merupakan himpunan kosong. Berdasarkan definisi tersebut, ada dua sifat penting pada pohon yaitu terhubung dan tidak mengandung sirkuit. Terhubung artinya pada setiap pasang simpul pada pohon terdapat lintasan yang menghubungkan. Tidak mengandung sirkuit berarti tidak terdapat lebih dari satu lintasan yang menghubungkan setiap pasang simpul pada pohon. Selain itu, dapat terlihat bahwa di dalam pohon, jumlah sisinya adalah jumlah simpul dikurangi satu. Terlihat pula bahwa pohon hanya memerlukan dua buah warna untuk mewarnai simpul-simpul di dalam pohon sedemikian rupa sehingga tidak ada dua buah simpul bertetangga yang mempunyai warna sama. Dengan kata lain, ditinjau dari teori pewarnaan graf, maka pohon mempunyai bilangan kromatik sama dengan 2.

b.      Pohon Berakar
Pohon yang sebuah simpulnya diperlakukan sebagai akar dan sisi-sisinya diberi arah sehingga menjadi graf berarah dinamakan pohon berakar. Akar mempunyai derajat-masuk sama dengan nol dan simpul-simpul lainnya berderajat-masuk sama dengan satu. Simpul yang mempunyai derajat-keluar sama dengan nol disebut daun atau simpul terminal. Simpul yang tidak mempunyai derajat-keluar sama dengan nol disebut simpul dalam atau simpul cabang. Setiap simpul di dalam pohon dapat dicapai dari akar dengan sebuah lintasan tunggal (unik). Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar 6.
Gambar 6 di atas (gambar pohon berakar dengan simpul a sebagai akar) akan digunakan untuk menjelaskan terminologi pohn berakar.

Misalkan Anak (child) dan Orangtua (parent). d adalah sebuah simpul di dalam pohon berakar. Simpul e dikatakan anak simpul d jika ada sisi dari simpul d ke simpul e. Dalam hal ini, d merupakan orangtua dari e. Jadi simpul b, e, f, dan g tidak mempunyai anak.

Saudara Kandung (sibling). Simpul yang mempunyai orangtua yang sama dikatakan merupakan saudara kandung satu sama lain. simpul b dan c merupakan saudara kandung satu sama lain. Lintasan (path). Lintasan adalah runtunan simpul-simpul dari simpul awal sampai simpul tujuan. Panjang lintasan adalah jumlah sisi yang dilalui dalam suatu lintasan.

c.       Penerapan Struktur Data Pohon
Berikut akan dikaji penerapan pohon untuk pencarian kata pada inverted file. Membangun dan mengelola inverted file adalah membutuhkan biaya proses yang relatif kecil. Inverted file dengan struktur data pohon untuk pencarian kata pada prinsipnya dapat mencari kata yang memiliki n karakter dengan biaya waktu O(n). Setiap kata pada vocabulary disimpan dalam struktur pohon dan setiap kata memiliki nilai occurrences masing-masing. Semua kata sudah tersusun rapi dan siap di retrieve. Jika suatu kata tidak diketemukan pada vocabulary maka keterangan ini dapat dimasukkan kedalam pohon sebagai kata yang occurrences-nya nol.


Dengan skema ini file disebut juga ‘posting file’. Pada file tersebut vocabulary tersusun secara terurut menurut abjad. Dan untuk tiap kata, terdapat juga pointer untuk tiap list nya. Hal ini memungkinkan vocabulary untuk disimpan pada memory pada tiap pencarian di tiap kasus pencarian. Kemudian, nilai kemunculan dapat dengan segera diketahui dengan hanya sedikit biaya tambahan saja. Namun mekanisme diatas tidak digunakan dalam praktek koleksi teks yang berukuran besar karena indeks tidak cukup semuanya di masukkan kedalam memori utama. Hal ini bisa saja disiasati dengan cara melakukan paging. Namun teknik paging akan menurunkan performansi algoritma. Algoritma ini benar-benar memakan resource memori untuk meload semua indeks pointer tiap list tiap kata, hal ini menyebabkan memori utama mengalami exhausted. Untuk selanjutnya akan dikaji alternatif cara untuk mengatasi hal ini dengan menggunakan struktur data pohon binary.

d.      Penerapan Struktur Data Pohon Binary
Pohon binary adalah pohon yang tiap simpulnya berderajat sama yaitu dua. struktur data ini akan dimanfaatkan untuk mengurangi penggunaan memori utama yang sangat berlebihan pada struktur data sebelumnya. Sebelumnya indeks dibagi-bagi menjadi beberapa bagian, misalkan terdapat Ii pada disk. Maka indeks-indeks parsial ini akan digabungkan secara hierikal mengikuti struktur data pohon binary. Indeks I1 dan I2 digabungkan menjadi indeks I1..2, Indeks I3 dan I4 digabungkan menjadi indeks I3..4 dan begitu seterusnya. Jika semua telah digabungkan dengan cara tersebut indeks I1..2 akan digabungkan dengan I3..4 begitu pula yang lainnya mengikuti sampai tergabung seluruhnya. hal ini diilustrasikan pada gambar 8.

Menggabungkan dua buah indeks berarti termasuk juga menggabungkan vocabulary yang sudah terurut. Dengan struktur ini maka indeks yang ada akan lebih sedikit jumlahnya yang logikanya sama dengan membadingkan posisi tiap kata menjadi beberapa blok. Karena indeks parsial akan lebih kecil jumlahnya daripada jumlah keseluruhan indeks kata. Sehingga dengan adanya operasi penggabungan ini maka untuk pencarian indeks yang memerlukan penggabungan biayanya adalah konkatinasi dari biaya komputasi teknik sebelumnya yaitu menjadi O(n1+n2). Biaya tambahan ini masih bisa ditolerir karena ada trade off yang sangat signifikan yaitu mengurangi konsumsi memori utama sehingga tidak terjadi exhaust.[6]




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Konsep dasar sistem temu balik informasi (STBI) yaitu proses untuk mengidentifikasi kecocokan (match) di antara permintaan (query) dengan representasi atau indeks dokumen, kemudian mengambil (retrieve) dokumen dari suatu simpanan  (file) sebagai jawaban atas pemintaan tersebut. STBI pada prinsipnya bekerja berdasarkan ukuran antara stilah query dengan istilah yang menjadi representasi dokumen. Secara teknis, tujuan STBI adalah mencocokkan (matching) term atau istilah yang dibangun (query) dengan term atau indeks yang ada dalam dokumen, sehingga dengan kecocokan tersebut maka dokumen-dokumen yang relevan akan terambil (retrived) dari database. Dokumen relevan yang terambil tersebut itulah tujuan dari STBI. Inverted file atau inverted index adalah mekanisme untuk pengindeksan kata dari koleksi teks yang digunakan untuk mempercepat proses pencarian. Struktur inverted file terdiri dari dua elemen, yaitu: kata (vocabulary) dan kemunculan (occurences).



[1] Bab II,”di unduh di http://library.binus.ac.id. hal. 32-33 tanggal 15 oktober 2017 pukul 16.00 WIB.
[2] Hasugian,Jonner.”penelusuran informasi ilmiah secara online. Medan: jurnal studi perpustakaan dan informasi, vol 2, juni 2006.(di unduh http://puslit2.petra.ac.id tanggal 11 oktober 2017, pukul 12.00 WIB) hal 3-4.

[3] Hikam,Ibnu. “Penerapan Pohon Untuk Algoritma Pencarian Kata Pada Inverted File Dalam Sistem Temu Balik Informasi” (Di unduh di http://informatika.stei.itb.ac.id/makalah2008.pdf  pada tanggal 12 Oktober pukul 17:08 WIB). hal, 3-4
[4] Cornell Education. “Information Retrieval” (diunduh di http://www.cs.cornell.edu/courses/cs4300/2013fa/lectures/inverted-indexes-4pp.pdf pada tanggal 10 Oktober pukul 16:01 WIB). Hal, 3.
[5] Suhartono, Derwin. “Electronic Document Management Using Inverted Files System” (Di unduh di https://www.epj-conferences.org/articles/epjconf/abs/2014/05/epjconf_icas2013_00004/epjconf_icas2013_00004.html pada tanggal 10 Oktober pukul 16:01 WIB). Hal, 3-4.
[6] Hikam,Ibnu. opcit. hal, 5-6.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Kerjasama Jaringan

Fakultas Ekonomi UAJY dan  Harian Jogja Teken  Kerja sama Penulisan  Annida Fathin Lubis Fakultas Ilmu Sosial Prodi Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara          Kerjasama adalah suatu pekerjaan yang di kerjakan oleh dua orang ataupun lebih untuk mencapai tujuan atau target yang sebelumnya telah direncanakan dan disepakati bersama. Atau kerjasama dapat diartikan sebagai tindakan-tindakan dalam pekerjaan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan dan demi keuntungan bersama. Kerjasama dapat dilakukan antar lembaga baik dalam negeri maupun luar negeri,                Salah  satu bentuk kerjasama yang dilakukan pada tahun 2018 yaitu Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta ( UAJY) dan Harian Jogja melakukan penandatanganan kerja sama (MoU) di bidang penulisan dan pelatihan jurnalistik. Dengan adanya kerjasama tersebut diharapkan pa...